aa

...SEMOGA INFORMASI YANG ANDA BACA DAPAT BERMANFAAT UNTUK ANDA DAN ORANG LAIN...

Kamis, 07 April 2011

Rabu, 06 April 2011

Ancaman Kerusakan Moral Anak Akibat Pornografi


Teringat sebuah ayat: ” Dan janganlah kamu mendekati zina sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.”(QS.Al Israa’:32 )
Sungguh miris dan musibah besar sekali, kondisi sosial masyarakat indonesia terbelenggu ranah pornografi. Telah nyata secara aktual kerusakan moral akibat akses-akses pornografi baik secara langsung atau tidak langsung (media/informasi). Tak pelak stimulasi akibat buruk pornografi membayangi generasi muda dan anak-anak. Jika fenomoena ini terus dibiarkan, sungguh masa depan bangsa akan kerusakan moral akibat pornografi karena generasi mudanya rusak sejak dini.  Ini sangat ironis bagi penentang anti pornografi yang menganggap remeh hal ini. Muslim Indonesia harus membuktikan bangsanya adalah juga muslim sejati. Waspada, stimulasi pornografi cenderung menurunkan kinerja otak sehingga mengancam moral,mental,kebodohan hingga menurunkan dedikasi hidup. Bagi muslim perkara pornografi adalah maksiat suatu perbuatan dosa lingkaran zina, dan telah jelas hukum zina dalam Islam. Kita simak ulasan bermanfaat dibawah ini,wawasan agar kita dan keluarga kita terhindar dari virus pornografi.
Simpan dokumen ini dalam ebook PDF, download ———————————————————————————————–

Anak dalam Lingkaran Pornografi 

Jakarta – Penelitian terbaru dari Yayasan Kita dan Buah Hati memperlihatkan bahwa 67 persen dari 2.818 siswa kelas 4-6 sekolah dasar di kawasan Jabodetabek sudah pernah menyaksikan materi pornografi lewat berbagai media. Sebanyak 24 persen di antaranya lewat komik, 18 persen melalui games, 16 persen lewat situs porno, 14 persen melalui film, dan sisanya melalui VCD dan DVD, telepon seluler, majalah dan koran.
Aliansi Selamatkan Anak (ASA) Indonesia (2006) bahkan menyatakan bahwa Indonesia selain menjadi negara tanpa aturan yang jelas tentang pornografi, juga mencatat rekor sebagai negara kedua “surga” pornografi terbesar di dunia setelah Rusia.
Jadi wajar jika pornografi semakin memprihatinkan bagi para orangtua. Kecanggihan teknologi seperti internet hingga telepon seluler berperangkat multimedia membuat pornografi dengan mudah masuk ke ruang pribadi anak.
Lalu, sejauh mana bahaya pornografi? Pakar adiksi pornografi dari Amerika, Mark Kastleman, mengungkapkan bahwa stimulasi oleh pornografi merangsang pelepasan hormon dopamin dan endorfin. Jika paparan pornografi diteruskan, otak akan membutuhkan dopamin semakin besar guna mempertahankan kadar rasa senang yang sama.
Dalam kondisi normal, dopamin dan endorfin akan sangat bermanfaat untuk membuat orang sehat dan menjalankan hidup dengan lebih baik saat normal. Namun dalam konteks pornografi, otak mengalami rangsangan berlebihan. Akibatnya otak tidak dapat bekerja dengan normal lalu akan mengecil dan rusak.
Sehingga anak dan remaja akan mudah mengalami bosan, merasa sendiri, marah, tertekan dan lelah. Dampak yang paling mengkhawatirkan adalah penurunan prestasi akademik dan kemampuan belajar, serta berkurangnya kemampuan pengambilan keputusan.
Selain kerusakan otak, pornografi juga menimbulkan hasrat untuk melakukan hubungan seksual dan membangkitkan kecenderungan untuk melakukan serta meniru. Dari survei yang dilakukan terhadap 1.017 remaja berusia antara 12 hingga 14 tahun di Amerika Serikat diperoleh hasil bahwa media yang banyak menampilkan gambaran seks meningkatkan nafsu para remaja untuk melakukan hubungan seks.
Tidak hanya itu. Berdasarkan penelitian Flood yang bertajuk The Australian Research Centre in Sex, Health and Society, anak-anak yang akrab dengan tayangan film porno akan tumbuh menjadi orang dewasa yang menganggap kekerasan seksual sebagai hal biasa.
Dalam riset yang dilakukannya, ia juga menemukan bahwa anak-anak penggemar film porno ini di usia dewasa sering gagal membina hubungan dengan pasangan. Mereka juga lebih sering melakukan hubungan seksual tanpa ikatan.
Menyadari seberapa hebat dan mudahnya pornografi juga menghancurkan masa depan seorang anak, orang tua seyogyanya menempuh beberapa tindakan preventif. Orang tua, baik ayah maupun ibu, harus lebih terlibat dalam pengasuhan anak-anak mereka sejak belia.
Kurangnya peran ayah dalam pengasuhan anak pada usia dini, khususnya pada anak lelaki, mengakibatkan terputusnya jembatan komunikasi antara orang tua dan anak. Hal ini membuat banyak anak memilih mencari informasi dari luar rumah yang bisa jadi malah menjerumuskan mereka dalam dunia pornografi.
Di samping itu, orang tua jangan gaptek (gagap teknologi). Orang tua harus mampu mengimbangi kemampuan teknologi anaknya sehingga dapat meningkatkan kewaspadaan. Sayangnya, tidak banyak orangtua mau melakukannya. Mereka sering tidak sadar dan tidak acuh terhadap efek perkembangan teknologi. Padahal mengabaikan teknologi merupakan salah satu faktor pemicu timbulnya kecanduan pornografi pada anak dan remaja.
Ketidaksadaran itu tampak dengan memanjakan anaknya dengan perangkat gadget yang tidak sesuai kapasitas mereka. Hal itu terjadi karena dari sisi orangtua, malu kalau anaknya belum punya gadget, takut anaknya minder, takut gaptek, takut tidak bisa bersaing di masa depan.
Mereka sama sekali tidak tahu apa yang mereka berikan bisa memberi dampak karena terlalu berprasangka baik pada teknologi. Kita hidup di revolusi teknologi yang kecepatannya melebihi desah napas kita. Hindari menggunakan cara 20 hingga 30 tahun lalu.
Terakhir, para orangtua seyogianya memberikan pendidikan seks yang benar dan sehat agar anak tidak memilih mencari informasi dari luar rumah yang bisa menjerumuskan mereka dalam dunia pornografi. Hal ini wajib dilakukan para orangtua mengingat ada faktor yang hilang pada penyuluhan tentang seksualitas bagi anak-anak dan remaja saat ini.
Pemerintah menyatakan pendidikan seks dimulai sejak umur 13 hingga 21 tahun karena dianggap anak tersebut telah memasuki fase dewasa. Padahal kenyataannya, 52 persen anak perempuan menstruasi pada usia 9 tahun, 48 persen anak laki-laki mimpi basah umur 10-11 tahun.
Anak adalah generasi penerus bangsa. Bisa dibayangkan apa jadinya masa depan bangsa ini jika generasi penerusnya rusak karena pornografi? Pornografi sejatinya merupak-meminjam istilah Psikolog Elly Risman, “bencana nasional” yang harus kita tanggulangi bersama. Sekarang! Sebelum semua terlambat.
*) Febri Nurrahmi S.Sos adalah alumnus ilmu komunikasi FISIP UI. Peneliti di Pusat Kajian Komunikasi (PUSKAKOM) FISIP UI.
(vit/vit)

Selasa, 05 April 2011

kerusakan moral generasi penerus bangsa

Video Porno Ariel Rusak 5 Bagian Otak

Celebrity | February 4, 2011 at 15:37
Jum’at, 4 Februari 2011 – 15:18 wibElang Riki Yanuar – Okezone m43ahw6GF0 Video Porno Ariel Rusak 5 Bagian Otak (Foto:Koran SI)
JAKARTA – Vonis terhadap Ariel dalam kasus penyebaran video yang ‘hanya’ 3,5 tahun disayangkan KPAI (Komisi Perlindungan Anak ). Sebab, video itu merusak lima bagian otak anak.
Sebagaimana dijelaskan Maria Advianti,S.P, Komisioner Bidang Pornografi & Napza KPAI dalam rilis yang diterima okezone, Jumat (4/2/2011), video Ariel berdampak buruk bagi anak-anak di bawah umur, baik anak itu menjadi korban maupun korban pelaku.
Dampak yang ditimbulkan dari peredaran video tersebut telah merusak moral jutaan anak bangsa, di mana anak–anak dapat menonton video dari handphone dan internet. Apalagi, di masih sangat mudah untuk mengakses serta memperoleh video ariel maupun video lainnya.
Menonton video bisa menyebabkan kecanduan pornografi. Menurut Maria, ada lima bagian otak yang dirusak akibat candu pornografi, yaitu orbito frontal midfrontal, insula hippocampus temporal, nucleus accumbers patumen, cingalute dan cerebellum.
“Efeknya, cara menganalisa, penilaian, pemahaman, pengambilan keputusan, makna hubungan dan hati nurani anak yang kecanduan pornografi akan rusak. Anak juga mudah menjadi depresi, mudah tersinggung, menarik diri, dalam berbahasa menjadi lebih mengarah kepada seks, dan mengisolasi diri,” tutur Maria.
Sementara, menurut penelitian dari Mark B Kastleman, psikolog khusus penanganan bagi korban pornografi, dampak buruk bagi anak dan korban pornografi adalah anak dan memiliki mental model atau perpustakaan yang bisa diakses kapan saja dan di mana saja,  kerusakan otak permanen (Visual Crack Cocain/Erototoksin), anak yang belum baligh bisa 33–36 kali ejakulasi, dan menjadi pecandu pornografi seumur hidup sehingga iman akan rusak dan terkikis.
Tak hanya itu, efek dari menonton video Ariel menyebabkan banyak anak diperkosa. KPAI selama 2010 menunjukkan, terdapat 40 kasus dan kekerasan seksual yang dialami anak setelah pelaku menonton video Ariel.
Anak–anak yang menjadi korban berusia 4–12 tahun, sedangkan korban pelaku berusia 16–18 tahun. Para pelaku mengaku sebelum memperkosa, menonton video Ariel, dan seluruh pelaku yang tertangkap polisi mengaku terangsang setelah menyaksikan video Ariel.(ang)

Source: Okezone – Celebrity
Kaa_Anangsyah NaBonbon ea....